{"id":869,"date":"2022-01-13T10:54:27","date_gmt":"2022-01-13T03:54:27","guid":{"rendered":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/?p=869"},"modified":"2022-01-13T10:54:27","modified_gmt":"2022-01-13T03:54:27","slug":"sekilas-sejarah-tkk-sang-timur-sumenep","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/?p=869","title":{"rendered":"Sekilas Sejarah TKK Sang Timur Sumenep"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pada tanggal 15 Februari 1937, Mgr.A.J.E Albers O\u2018Carm mendapat kabar gembira dari Rm. Cyprianus Verbeek O\u2018Carm (alm)\u00a0<em style=\"font-weight: inherit;\">procurator<\/em>\u00a0misi di Nederland, bahwa suster-suster dari kongregasi\u00a0 \u201cDarah Mulia\u201d\u00a0 \u201cdieek en Donk\u201d\u00a0 akan berkarya di Madura dengan tenaga sebanyak lima Suster. Empat Suster langsung terjun ke bidang pendidikan dan satu Suster menjadi pengurus rumah tanggga susteran.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tujuan semula untuk berkarya di Pamekasan dibatalkan dan mereka berkarya di Sumenep dengan tempat tinggalnya di Moncol (Sumenep) sampai dengan tahun 1940. Pada tahun 1940, karena tempat di Moncol sudah tidak memungkinkan lagi, maka para Suster \u201cDarah Mulia\u201d berpindah ke Pabean. Tanggal 20 Juni 1941 mendapatkan izin untuk membangun\u00a0 sekolah dengan 8 kelas. Tanggal 2 Februari 1942 pembangunan gedung sekolah ini selesai dan diberkati\u00a0 namun tepat seminggu kemudian yakni tanggal 9 Februari 1942 secara resmi sekolah ditutup oleh Mgr.Albers O\u2018Carm karena keadaan perang (invasi Jepang). Pastor N. Ten Kroode O\u2018Carm serta para Pastor terpaksa mengungsi ke Jawa. Tibalah pula masa suram pendidikan di Sumenep karena keadaan perang. Selama masa perang gedung-gedung komplek misi di Sumenep (Pastoran dan Susteran ) mengalami banyak kesukaran karena digunakan oleh tentara Jepang. Semua perabot hilang dan dicuri.<span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, komplek misi dijadikan tempat perlindungan bagi para wanita bangsa eropa. Barulah pada bulan Juli 1946 komplek \u00a0misi ini dapat dibersihkan kembali. Pada tahun 1950 para suster kongregasi \u201cDarah Mulia\u201d mulai kembali ke Sumenep. Perhatian terhadap sekolah mulai meningkat, jumlah murid makin bertambah. Pada\u00a0 tahun 1957 para suster dari kongregasi \u201cDarah Mulia\u201d tidak dapat melanjutkan karya pendidikan di Sumenep, karena mereka tidak mendapatkan calon suster untuk biaranya, artinya mereka tidak mempunyai harapan kongregasinya berkembang\u00a0 di Sumenep. Hal ini dipercepat oleh peraturan pemerintahan yang menetapkan bahwa warga negara asing dilarang mengajar di sekolah-sekolah. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Sejak tanggal 1 Agustus 1959\u00a0 karya pendidikan yang ditangani oleh suster-suster \u201cDarah Mulia\u201d diambil alih oleh Suster-suster Sang Timur dari Pasuruan. Tepatnya tanggal 15 Desember 1959\u00a0 sekolah TKK Santo Yosef\u00a0 diganti nama menjadi TKK Sang Timur\u00a0 dibawah naungan Yayasan Karya Sang Timur. Dengan demikian berakhirlah sudah karya para suster \u201cDarah Mulia\u201d yang sudah sangat berjasa bagi perkembangan karya gereja dan umat di Sumenep.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Karya pendidikan TKK Sang Timur sampai saat ini masih diminati oleh masyarakat Sumenep baik yang Katolik maupun non Katolik, dari berbagai suku, ras, dan budaya. Para suster, guru dan karyawan dengan penuh kasih persaudaraan melayani anak-anak yang dipercayakan kepada mereka. Para alumni Sang Timur dan pemerhati karya pendidikan terus berupaya dengan berbagai cara untuk mempertahankan karya pendidikan Sang Timur di Sumenep khususnya TKK Sang Timur.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">***<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"color: #999999;\">Sumber: website TKK Sang Timur Sumenep<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tanggal 15 Februari 1937, Mgr.A.J.E Albers O\u2018Carm mendapat kabar gembira dari Rm. Cyprianus Verbeek O\u2018Carm (alm)\u00a0procurator\u00a0misi di Nederland, bahwa suster-suster dari kongregasi\u00a0 \u201cDarah Mulia\u201d\u00a0 \u201cdieek en Donk\u201d\u00a0 akan berkarya di Madura dengan tenaga sebanyak lima Suster. Empat Suster langsung terjun ke bidang pendidikan dan satu Suster menjadi pengurus rumah tanggga susteran. Tujuan semula untuk &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/?p=869\"> <span class=\"screen-reader-text\">Sekilas Sejarah TKK Sang Timur Sumenep<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":870,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"slim_seo":{"title":"Sekilas Sejarah TKK Sang Timur Sumenep - Yayasan Karya Sang Timur","description":"Pada tanggal 15 Februari 1937, Mgr.A.J.E Albers O\u2018Carm mendapat kabar gembira dari Rm. Cyprianus Verbeek O\u2018Carm (alm)\u00a0 procurator \u00a0misi di Nederland, bahwa sust"},"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[16,14,15],"class_list":["post-869","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-sang-timur-sumenep","tag-tkk-sang-timur","tag-tkk-sang-timur-sumenep"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/869","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=869"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/869\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":872,"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/869\/revisions\/872"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/870"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=869"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=869"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yayasankarya.sangtimur.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=869"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}